Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Cognitive Behavioral Therapy (Terapi perilaku kognisi)

Dalam kesempatan kali ini saya akan berbagi salah satu jenis terapi dalam psikologi, yaitu Cognitive Behavioral Therapy yang biasa disingkat dengan CBT. Baiklah pembaca silahkan menyimak artikel berikut, semoga bermanfaat…Amiin Terapi perilaku kognisi (CBT, Cognitive Behavioral Therapy) menekankan pada proses belajar memperbaiki dan mempertahankan perilaku. Klien didorong untuk mengenali hubungan antara pikiran dan responnya terhadap situasi social. CBT seringkali melibatkan pelatihan ketrampilan penyelesaian masalah. Pelatihan ini telah banyak dipelajari dan terdapat bukti keberhasilannya dalam jangka pendek untuk treatmen agresi dan gangguan perilaku pada anak. CBT digunakan untuk berbagai masalah anak dan dewasa. Terapi ini menekankan pada teknik kognisi tertentu yang dirancang untuk menghasilkan perubahan dalam berpikir dan denan demikian perubahan dalam perilaku atau mood. CBT juga menekankan proses belajar dan cara dimana lingkungan luar (eksternal) dapat merubah baik kognisi maupun perilaku. CBT untuk anak dan remaja biasanya melibatkkan berbagai prosedur perilaku berdasar performa, dan seringkali melibatkan keluarga atau sekolah dalam terapi. Terapi ini juga mungkin melibatkan kerja individu, sesi kelompok, atau keduanya. Lama treatmen berubah-rubah dan tergantung pada keparahan kesulitan yang dialami. Bagi anak dengan gangguan perilaku dan agresi CBT biasanya terfokus pada kognisi social dan penyelesaiian masalah interpersonal. Program yang digunakan seringkali lama dan mungkin menghabiskan 25 atau 30 sesi mingguan. Terapis bertugas secara aktif dan terlibat dalam dan berusaha untuk mengembangkan hubungan kerjasama yang menstimulasi anak untuk berfikir sendiri. Pendekatan ini bertujuan untuk member anak kesempatan untuk mencoba dan mengembangkan ketrampilan baru. Terdapat dua jenis CBT, yaitu : Social Skills and Anger Coping Skills Training (Pelatihan Ketrampilan Social dan Ketrampilan Penanganan Amarah), merupakan serangkaian pendekatan CBT yang terfokus pada bagaimana anak dengan masalah perilaku yang terus menerus seringkali memiliki pemahaman yang tidak benar mengenai kejadian social. Program yang digunakan terfokus pada modifikasi dan pengembangan pemahaman anak mengenai kepercayaan dan keinginan orang lain, dan juga memperbaiki tanggapan emosional anak itu sendiri. Problem Solving Skills Training (Pelatihan Ketrampilam Penyelesaian Masalah). Salah satu bahan dasar CBT adalah untuk memperbaiki kemampuan penyelesaian masalah agresi pada anak dan remaja. Pelatihan membantu mereka menangani masalah eksternal yang mungkin memprovokasi perilaku. Anak pertama kali didorong untuk membuat solusi yang mungkin bagi suatu masalah. Anak itu dan terapis kemudian memutuskan penyelesaian terbaik dan mengenali langkah-langkah dalam imolementasinya. Anak tersebut kemudian melatih langkah-langkah ini dan pada akhirnya keseluruhan proses dievaluasi. Sekian artikel ini, mohon maaf jika terdapat kekurangan. Indahnya berbagi karena Allah SWT…

Kamis, 23 Juni 2011

Gangguan Emosi

Gangguan Emosi dan Perilaku banyak terjadi pada anak-anak. Menurut Pierangelo (1994), emotionally disturbed child memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
a. Academic underachievement
b. Inappropriate classroom behaviour
c. Confrontational behaviour
d. Impulsive behaviour
e. Mudah merasa frustrasi meskipun hanya mengerjakan tugas yang sederhana
f. Sulit untuk berubah (resistant to change)
Emotional disturbed dapat mengganggu performa anak saat belajar yang akan berdampak pada prestasi di kelasnya. Hal ini disebabkan oleh anak mengalami kelelahan saat berada dalam situasi yang memicu emosinya. Saat mengalami kejadian seperti itu, anak membutuhkan energi untuk menghadapi konflik tersebut, semakin besar konflik semakin besar pula energi yang diperlukan. Jika energi yang ia miliki telah habis, maka hal ini akan mengganggu belajar anak di kelas. Hal-hal yang dapat terkena dampak dari emotional disturbed ini adalah konsentrasi, ingatan, perhatian (Pierangelo, 1994). Jika hal ini terjadi secara terus menerus, maka anak akan menjadi underachiever.
Ormrod (2006) juga menjelaskan bahwa siswa dengan masalah emosi dan perilaku memiliki berbagai masalah di sekolah. Mereka sulit berkonsentrasi dalam belajar, prestasi akademik rendah, tidak bisa mempertahankan hubungan interpersonal dengan orang dewasa dan teman sebaya, memiliki depresi atau kecemasan yang berlebihan dan lama, suasana hati yang mudah berubah, perilaku agresif atau antisosial. Gejala dibagi atas dua, yaitu (Ormrod, 2006):
a. Perilaku yang mengarah ke luar diri. Perilaku ini mempunyai akibat secara langsung maupun tidak langsung kepada orang lain. Perilaku ini seperti: agresif, melawan, tidak patuh, berbohong, mencuri, kurangnya kontrol diri.
b. Perilaku yang mengarah ke dalam diri: Perilaku berdampak pada diri siswa sendiri. Dampak tersebut berupa: kecemasan, depresi, menarik diri dari interaksi sosial, masalah makan, kecenderungan bunuh diri.

Secara umum, berikut karakteristik dari anak yang mengalami masalah emosi dan perilaku (Eggen& Kauchak, 2010):
 Berperilaku secara impulsif dan memiki kesulitan berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang dapat diterima.
 Berperilaku berlebihan dan gagal dalam mengikuti sekolah dan peraturan kelas.
 Menunjukkan konsep diri yang rendah.
 Memiliki prestasi akademik yang rendah dan sering bolos.
Gejala-gejala gangguan emosi, antara lain (Frampton & Gall, 1960) :
a) Gampang mengalami kondisi gelisah.
b) Melamun, kurang konsentrasi, gelisah.
c) Kecemasan, perasaan takut, perasaan malu.
d) Takut terhadap hal tertentu.
e) Mengalami gugup setiap saat.
f) Agresi, kasar
g) Gangguan bicara.
h) Kurang dalam hal nafsu makan.
i) Perilaku seperti balita, menangis setiap saat.
j) Berbohong, mencuri.
k) Gangguan pencernaan, kepala pusing, sakit bagian perut.
l) Melawan perintah.
m) Mengalami keletihan.
n) Obsesi.
o) Histeria

Masalah emosi dan perilaku disebabkan oleh faktor keluarga. Faktor tersebut seperti: penganiayaan anak, praktik pola asuh yang tidak konsisten, kekerasan, dan penggunaan alkohol/obat-obatan di keluarga. Namun, faktor biologis juga ikut berperan. Faktor tersebut seperti: gen, unsur kimia yang berlebihan di dalam tubuh, kerusakan otak, sakit parah (Ormrod, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi masalah emosi dan perilaku menurut Sanders (1999) adalah sebagai berikut : factor keluarga, seperti pola asuh minim, konflik dalam keluarga, perpecahan di dalam keluarga berpengaruh kuat terhadap perkembangan anak. Secara lebih khusus, yaitu kurangnya relasi positif dengan orangtua, perasaan tidak nyaman dalam berelasi dengan orangtua, kasar, kaku, penerapan disiplin yang tidak konsisten, psikopatologi orangtua memperkuat risiko mengembangkan masalah perilaku dan emosi, termasuk penggunaan obat-obatan yang berlebihan, perilaku antisosial, dan kriminalitas (Sanders, 1999).
Sedangkan menurut The Individuals with Disabilities Education Act (IDEA), emotianally disturbed child memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
a. Ketidakmampuan belajar yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor intelektual,sensoris, dan kesehatan.
b. Ketidakmampuan membangun atau mempertahankan hubungan dengan teman dan guru
c. Perilaku atau perasaan yang tidak tepat didalam situasi yang normal
d. Secara keseluruhan memiliki sikap tidak bahagia atau depresi
e. Kecenderungan untuk memperoleh symptom fisik atau rasa takut yang berhubungan dengan permasalahan pribadi maupun sekolah.
Anak yang memiliki criteria Emotional disturbed biasanya mengalami permasalahan perilaku, sosio- emosional, dan akademis dalam berbagai keadaan.

Senin, 20 Juni 2011

ADHD or GPPH

ADHD adalah attention deficit and hyperactivity disorder atau dalam bahasa indonesianya adalah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas (GPPH).
GPPH ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Cirri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa. (Patternote and Buitelar, 2010).
Gejala GPPH termasuk kesulitan untuk tetap fokus dan memperhatikan, kesulitan mengendalikan perilaku, dan hiperaktivitas (over-aktivitas).(National Institute of mental Health 2008).
Ada beberapa faktor penyebab ADHD pada anak yaitu faktor genetic, faktor lingkungan (alkohol, rokok, paparan radiasi elektromagnetik , keracunan timbal, dll)) sehingga dapat menyebabkan kerusakan otak, dan faktor penggunaan penguat rasa makanan, dan gula (Patternote and Buitelar, 2010). Carlo (2006) menyatakan bahwa banyak orang tidak menyadari paparan radiasi elektromagnetik dapat menyebabkan gangguan dan membahayakan kesehatan, paparan radiasi elektromagnetik dapat menurun stamina, masalah memori, kelelahan, dan kemungkinan besar berkontribusi dalam sejumlah penyakit termasuk autisme, ADHD, Alzheimer, penyakit jantung, stroke, diabetes, insomnia, depresi, cacat lahir, dan menimbulkan berbagai penyakit. Carlo (2006) mengatakan bahwa ketika orangtua mulai menggunakan HP maupun Wifi (modem internet) saat anak berusia dini sekitar 8 atau 9 tahun, maka di usia mereka ke-18 atau 19 tahun mereka telah terpapar radiasi elektromagnetik selama 10 tahun yang berarti bahwa apa yang telah dilakukan orangtua telah menempatkan anak-anak ini dalam posisi yang luar biasa berbahaya.
Teman-teman semoga pengetahuan diatas paling tidak membuat kita sadar betapa penggunaan HP dan Wifi memiliki bahaya yang luar biasa bagi anak-anak, sehingga kita sebagai orangtua bisa lebih bijaksana dalam menyikapi perubahan zaman yang memang menuntut kita untuk berhubungan kedua benda tersebut. Penggunaan HP agar radiasinya tidak terlalu besar dapat menggunakan handsfree, penggunaan Wifi mungkin bisa menggunakan kabel LAN. Demikian, salam sukses!


DAFTAR PUSTAKA
Patternote & Jan Buitellar, 2010. Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Prenada Media Group. Jakarta

Carlo G. Mariea T. " Wireless Radiation in the Etiology and Treatment of Autism: Clinical Observations and Mechanisms ", Australasian Journal of Clinical Environmental Medicine 2007; 26(2): 3-7, 17.